Pokdarwis Sidomulyo Ikut Berpartisipasi Dalam Dialog Kebudayaan Untuk Revitalisasi Kebudayaan Generasi Z
- Aug 28, 2023
- Dwi Ayuningtyas
- BERITA PEMUDA
JEMBER - Dalam upaya untuk melestarikan dan memperkenalkan kebudayaan lokal kepada generasi muda, Pokdarwis Desa Sidomulyo menghadiri sebuah dialog kebudayaan yang bertujuan untuk merumuskan strategi revitalisasi kebudayaan bagi Generasi Z yang digelar oleh atas kerja sama Kemendikbud Ristek dengan Komisi X DPR RI.
Acara tersebut diadakan pada hari Sabtu, 26 Agustus 2023, di Hotel Dafam Fortuna Jember, dan dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, tokoh masyarakat, serta para pemuda dari berbagai kelompok.
Dialog kebudayaan ini bertujuan untuk mengatasi tantangan dalam melestarikan budaya lokal di era modern yang semakin canggih dan global. Generasi Z, yang tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi teknologi digital dan globalisasi, sering kali kehilangan kontak dengan akar budaya mereka sendiri. Acara tersebut menjadi platform penting untuk memahami pandangan dan preferensi Generasi Z terkait budaya serta mencari cara bagaimana budaya lokal dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai yang relevan bagi mereka.
Tyas, Perwakilan Pokdarwis Desa Sidomulyo, menjelaskan, "Kami merasa perlu untuk terus mengajak generasi muda kami untuk memahami, menghargai, dan merawat warisan budaya yang kami miliki. Kebudayaan adalah bagian integral dari identitas kami, dan kami ingin memastikan bahwa itu tidak hilang dalam arus modernisasi."
Dialog ini menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan budayawan, pendidik, dan anggota DPR RI yang peduli terhadap pelestarian budaya. Diskusi-diskusi dipusatkan pada bagaimana menyajikan kebudayaan secara menarik dan relevan bagi Generasi Z, termasuk melalui penggunaan media sosial, teknologi interaktif, dan pengalaman langsung di lapangan.
Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Hilmar Farid menerangkan, upaya menanamkan nilai kebudayaan kepada Gen Z merupakan tanggung jawab bersama. Namun, fakta saat ini muncul kegelisahan terkait cara mewariskan kebudayaan tersebut kepada Gen Z.
Kegelisahan mencari metode mewariskan nilai-nilai kebudayaan tersebut, salah satunya karena generasi lama belum memahami lanskap kebudayaan. Sehingga upaya menanamkan nilai kebudayaan yang dilakukan cenderung normatif, tidak aplikatif.
“Upaya revitalisasi kebudayaan kita saat ini cenderung normatif, tidak aplikatif. Sibuk memberikan pemahaman anak harus begini dan begitu. Padahal waktu terus berjalan dan berkembang,” ujar Farid.
Sementara Anggota Komisi X DPR RI H. Muhamad Nur Purnamasidi mengatakan, negara harus merumuskan langkah untuk menjawab kebutuhan Gen Z. Degan kebijakan tersebut nanti Gen Z dapat memiliki gambaran secara mandiri terkait kebudayaan yang ingin dikembangkan.
Salah satu hasil utama dari dialog ini adalah rencana untuk mengembangkan program edukatif dan acara budaya yang lebih mengakomodasi preferensi Generasi Z. Ini termasuk pelatihan keterampilan tradisional, pertunjukan seni kontemporer dengan sentuhan budaya lokal, serta penggunaan teknologi untuk menghidupkan kembali cerita-cerita dan tradisi-tradisi lama.
Para peserta menyambut baik inisiatif ini, dengan harapan bahwa kolaborasi antara generasi yang lebih tua dan Generasi Z akan membawa revitalisasi yang positif bagi kebudayaan lokal. Semua pihak sepakat bahwa menjaga kesinambungan budaya adalah tanggung jawab bersama yang akan membentuk pondasi kuat bagi masa depan yang kaya akan identitas dan warisan budaya.