Intip Perjalanan Rumah Batik Di Sidomulyo

  • Aug 11, 2023

Intip Perjalanan Rumah Batik Di Sidomulyo

Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni yang cukup tinggi dan menjadi bagian budaya di indonesia terkhusus di pulau jawa, yang mana hal tersebut merupakan warisan nenek moyang bangsa indonesia dulu. Berbicara sejarah pembatikan Indonesia, hal ini berkaitan erat dengan dengan perkembangan  kerajaan majapahit dan kerjaaan sesudahnya pada masa itu.

Tradisi membatik adalah warisan budaya turun-temurun sehingga motif yang dibuat atau yang dikenali terkadang berasal dari daerah pembuatnya atau dari keluarga tertentu, tergantung yang membuat. Dalam proses pembuatan batik, UNESCO mengakui dua jenis proses pembutan batik yang pertama batik cap dan batik tulis.

Di Jember terdapat beberapa  rumah batik salah satunnya di kecamatan Silo, tepatnya di desa Sidomulyo. Edukasi Rumah Batik di Sidomulyo berdiri pada tanggal 21 Juni tahun 2018. Mulanya pada tahun 2017 ada komunitas GPS ( Gerakan Pemuda Sidomulyo) yang diketuai oleh Kamiludin,S. Kep., Ners yang merupakan kepala desa saat ini. Komunitas GPS mengumpulkan beberapa orang untuk mengiktuti pelatihan pembuatan batik, dengan harapan terdapat pembatik di kecamatan Silo. Sehingga dengan inisiatif GPS membentuk kelompok pembatik yang terdiri dari tiga dusun yaitu: Curah Damar, Krajan dan Curah Manis. Setelah mendapat bantuan dana dari PLN Peduli akhirnya digabung menjadi satu kelompok. Pembuatan batik membutuhan ketekunan dan ketelatenan, oleh karena itu dari yang awalnya memiliki banyak anggota kini hanya tinggal tujuh orang.

Dalam perkembanganya pelan tapi pasti produksi batik semakin meningkat. Bahkan ketika masa pandemi pun Rumah Batik Sidomulyo mendapatkan omset yang melebihi target. Uniknya, dalam pemasaran batik secara offline lebih cepat terjual dibandingkan dengan pemasaran secara online karena para konsumen secara langsung mengunjungi Galeri Rumah Batik.

Tak hanya itu, pengunjung Galeri Rumah Batik juga dapat belajar membatik sesuai dengan seleranya. Dari hasil membatik sendiri, para pengunjung bisa membawanya sebagai oleh-oleh. Selama ini mayoritas pengunjung berasal dari kalangan mahasiswa dengan tujuan belajar membatik.

KIM TIRTO GUMITIR